Pemukiman Baru Desa Kawasi Jadi Model Hunian Inklusif dan Berkelanjutan di Malut

- Penulis

Jumat, 27 Maret 2026 - 13:18 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

WaidobaNusantaraori.com | Halsel – Peluncuran program pembangunan dan rehabilitasi 1.200 Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) oleh Pemerintah Provinsi Maluku Utara (Malut) pada 2026 menandai perhatian yang semakin besar pada kualitas hunian masyarakat.

Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memperkuat kesejahteraan warga melalui lingkungan tinggal yang lebih aman, sehat, dan layak.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gambaran tentang bagaimana visi tersebut dapat diwujudkan juga terlihat dari berbagai inisiatif lain di tingkat daerah, salah satunya pengembangan permukiman baru di Desa Kawasi yang digagas Pemerintah Kab. Halmahera Selatan dengan dukungan Harita Nickel, sebagai contoh pendekatan kolaboratif dalam menghadirkan permukiman yang menunjang tumbuh kembang generasi berikutnya.

Pembangunan Kawasan Permukiman Baru Desa Kawasi di Pulau Obi dinilai telah memenuhi parameter kota modern yang ideal.

Dosen Teknik Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU), Rais D. Hi. Yusuf menyebut, kawasan Permukiman Baru Kawasi telah mengimplementasikan tiga prinsip utama kota inklusif, yaitu livable (layak huni), smart (pintar), dan sustainable (berkelanjutan).

Menurut Rais, sebuah kota inklusif harus memberikan akses pelayanan publik dan kesempatan ekonomi yang setara bagi seluruh warga tanpa memandang latar belakang.

“Permukiman Baru Desa Kawasi dirancang dengan pendekatan human-centered design, di mana pembangunan infrastruktur dasar, fasilitas sosial, hingga layanan publik difokuskan sepenuhnya pada kebutuhan dan kesejahteraan manusia,” ungkapnya.

Salah satu aspek teknis yang menonjol dalam pembangunan ini adalah pemanfaatan limbah industri berupa slag nikel sebagai pengganti agregat kasar dalam campuran beton.

Rais menjelaskan penggunaan slag nikel dari fasilitas pemurnian Harita Nickel di Pulau Obi merupakan langkah nyata menuju industri konstruksi yang ramah lingkungan. Material ini ketika diaplikasi pada hunian permanen dan jalan lingkungan, menjadikannya struktur kokoh dan tahan guncangan.

“Slag nikel memiliki partikel sudut yang padat dan kandungan kimia seperti silika serta kapur yang mendukung proses hidrasi semen. Hasilnya, beton yang dihasilkan memiliki kualitas yang lebih baik, lebih tahan lama dan secara signifikan mengurangi ketergantungan pada agregat alami,” jelas Magister Urban Design Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

Dari sisi tata ruang, Rais menyoroti penerapan konsep mixed-use and diverse city di Permukiman Baru Desa Kawasi. Konsep ini menggabungkan berbagai fungsi kegiatan meliputi tempat tinggal, area komersial, fasilitas publik, hingga ruang terbuka hijau dalam satu kawasan yang terintegrasi.

Ia menambahkan, berdasarkan aspek dan kriteria dari ketentuan Kementerian Pekerjaan Umum Nomor 2 Tahun 2016, Permukiman Baru Kawasi telah memenuhi kriteria Eco-Settlement (Permukiman Ekologis).

“Kawasan Kawasi bukan sekadar permukiman biasa, melainkan contoh konkret bagaimana aspek sosial, ekonomi, dan ekologi diseimbangkan. Ini bisa menjadi benchmark dalam perencanaan dan perancangan kawasan permukiman kota di wilayah lain, terutama di lingkar industri,” pungkas Rais.

Penjabaran Rais selaku akademisi sejalan dengan apa yang dirasakan oleh warga yang telah menghuni Pemukiman Baru Desa Kawasi. Salah satunya adalah Yunince, yang mengatakan permukiman baru menghadirkan lingkungan yang lebih bersih dan nyaman dibandingkan tempat tinggal sebelumnya.

“Kalau hujan tidak becek, kalau panas tidak berdebu, Di sini listrik dan air 24 jam penuh. Kami juga pakai pendingin ruangan (AC) di sini,” sebut Yunince.

Hal serupa disampaikan Nur Eneng Rahmat (33), yang merasakan perubahan besar dalam kenyaman dan ketenangan di Pemukiman Baru Kawasi. Tak hanya itu, Nur Eneng mengatakan di Pemukiman Baru terbuka peluang ekonomi bagi warga. Seperti dirinya sendiri yang mengelola usaha penjualan sembako dan sayur, omzet harian saya mencapai Rp1-2 juta.

Pemukiman Baru Desa Kawasi peluang ekonomi bagi saya terbuka lebar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel waidobanusantaraori.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Peringatan Tsunami Berakhir, Warga Maluku Utara Diminta Tetap Waspada
Sejumlah Bangunan di Kota Ternate Rusak Parah, Imbas Gempa Magnitudo 7,3 Dini Hari
Gempa Magnitudo 7,3 Guncang Bitung Hingga Ternate, Waspada Susulan  
Menseneg, Dari Istana Belum Memastikan Kenaikan BBM 1 April 2026
Pakar Lingkungan Universitas Indonesia, Pengelolaan Air di Lingkar Tambang Kawasi Memadai
Ketua IMM Halmahera Selatan Fadila Syahril Geram, Sebut SDN 86 Marituso Darurat Pendidikan
Pemukiman Baru Desa Kawasi Jadi Model Hunian Inklusif dan Berkelanjutan di Malut
Sengketa Lobang Galian Emas di Anggai Kembali Terjadi, Keamanan Dihimbau Turun Tangan
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 2 April 2026 - 07:56 WIT

Peringatan Tsunami Berakhir, Warga Maluku Utara Diminta Tetap Waspada

Kamis, 2 April 2026 - 01:52 WIT

Sejumlah Bangunan di Kota Ternate Rusak Parah, Imbas Gempa Magnitudo 7,3 Dini Hari

Kamis, 2 April 2026 - 00:19 WIT

Gempa Magnitudo 7,3 Guncang Bitung Hingga Ternate, Waspada Susulan  

Selasa, 31 Maret 2026 - 10:22 WIT

Pakar Lingkungan Universitas Indonesia, Pengelolaan Air di Lingkar Tambang Kawasi Memadai

Senin, 30 Maret 2026 - 05:05 WIT

Ketua IMM Halmahera Selatan Fadila Syahril Geram, Sebut SDN 86 Marituso Darurat Pendidikan

Berita Terbaru