Pakar Lingkungan Universitas Indonesia, Pengelolaan Air di Lingkar Tambang Kawasi Memadai

- Penulis

Selasa, 31 Maret 2026 - 10:22 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

WaidobaNusantaraori.com | Halsel – Di wilayah tambang, operasional yang bertanggung jawab dan berkelanjutan sangat ditentukan oleh pengelolaan sumber daya paling mendasar (air).

Di Desa Kawasi Halmahera Selatan (Halsel) Provinsi Maluku Utara, mata air menjadi sumber utama kehidupan masyarakat. Pada saat yang sama, kawasan ini berada berdekatan dengan aktivitas pertambangan dan pengolahan nikel yang terus berkembang.

Dalam konteks ini, pengelolaan air tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyangkut keseimbangan antara kebutuhan industri dan keberlanjutan lingkungan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dosen Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, Tri Edhi Budhi Soesilo menegaskan, bahwa keberlanjutan sumber air sangat bergantung pada cara manusia mengelola lingkungan.

“Menjaga sumber air tentu dapat diupayakan, bergantung pada bagaimana manusia memperlakukan alam,” ujarnya.

Mata air Kawasi secara hidrogeologis berasal dari akuifer dangkal di kawasan hutan dan dataran tinggi Obi bagian timur. Dalam observasi lapangan pada Juni 2025, Budhi mencatat sejumlah upaya pelestarian telah dilakukan. Upaya tersebut meliputi perlindungan daerah tangkapan air, pembangunan jaringan distribusi ke permukiman, hingga pelibatan masyarakat dalam pengelolaan.

Menurut Budhi, pengelolaan air harus berbasis pada prinsip neraca air, yakni keseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan. Ketersediaan ini ditopang oleh berbagai sumber, seperti curah hujan, sungai, dan mata air, serta kemampuan ekosistem menyimpan air melalui tutupan vegetasi.

“Boleh jadi, recharge sebenarnya cukup, tetapi karena perilaku manusia yang merusak lingkungan sekitar sumber air, airnya berkurang,” kata Budhi.

Ia juga menilai jalur mata air Kawasi tidak beririsan dengan sistem pengelolaan sedimentasi tambang, sehingga relatif terlindungi dari dampak operasional. Pemanfaatan air pun dipisahkan, dengan mata air digunakan untuk kebutuhan masyarakat, sementara operasional industri memanfaatkan air permukaan dari Danau Karo dan tidak menggunakan air tanah.

Pengujian kualitas air dilakukan secara berkala melalui laboratorium independen. Hasil uji pada April 2025 menunjukkan sejumlah indikator berada dalam batas aman, antara lain pH sebesar 7,87, kandungan Chromium Hexavalent (Cr-VI) yang sangat rendah, serta kadar oksigen yang masih sesuai standar.

“Berbagai upaya pengelolaan air oleh perusahaan itu, menurut saya, sudah memadai,” ungkap Budhi.

Bagi masyarakat Kawasi, indikator paling nyata dari pengelolaan air adalah pengalaman sehari-hari. Salah satu warga, Yulius Langkodi, menyampaikan bahwa kondisi air bersih saat ini tidak lagi menjadi kekhawatiran utama.urusan Air bersih sudah nyaman ujarnya”

Pernyataan ini menjadi penting, mengingat dalam banyak wilayah tambang, persoalan air justru menjadi sumber utama konflik. Di Kawasi, air menjadi lebih dari sekadar sumber daya. Ia menjadi tolok ukur, apakah keseimbangan antara aktivitas industri dan kehidupan masyarakat dapat dipertahankan. Hingga saat ini keseimbangan itu masih terjaga.* (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel waidobanusantaraori.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Peringatan Tsunami Berakhir, Warga Maluku Utara Diminta Tetap Waspada
Sejumlah Bangunan di Kota Ternate Rusak Parah, Imbas Gempa Magnitudo 7,3 Dini Hari
Gempa Magnitudo 7,3 Guncang Bitung Hingga Ternate, Waspada Susulan  
Menseneg, Dari Istana Belum Memastikan Kenaikan BBM 1 April 2026
Ketua IMM Halmahera Selatan Fadila Syahril Geram, Sebut SDN 86 Marituso Darurat Pendidikan
Pemukiman Baru Desa Kawasi Jadi Model Hunian Inklusif dan Berkelanjutan di Malut
Pemukiman Baru Desa Kawasi Jadi Model Hunian Inklusif dan Berkelanjutan di Malut
Sengketa Lobang Galian Emas di Anggai Kembali Terjadi, Keamanan Dihimbau Turun Tangan
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 2 April 2026 - 07:56 WIT

Peringatan Tsunami Berakhir, Warga Maluku Utara Diminta Tetap Waspada

Kamis, 2 April 2026 - 01:52 WIT

Sejumlah Bangunan di Kota Ternate Rusak Parah, Imbas Gempa Magnitudo 7,3 Dini Hari

Kamis, 2 April 2026 - 00:19 WIT

Gempa Magnitudo 7,3 Guncang Bitung Hingga Ternate, Waspada Susulan  

Selasa, 31 Maret 2026 - 10:22 WIT

Pakar Lingkungan Universitas Indonesia, Pengelolaan Air di Lingkar Tambang Kawasi Memadai

Senin, 30 Maret 2026 - 05:05 WIT

Ketua IMM Halmahera Selatan Fadila Syahril Geram, Sebut SDN 86 Marituso Darurat Pendidikan

Berita Terbaru