Mengelola Limpasan Ditengah Hujan Tropis Jadi Tantangan Tambang Nikel di Pulau Obi

- Penulis

Selasa, 12 Mei 2026 - 07:45 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

WaidobaNusantaraori.com | Halsel – Di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Maluku Uatara, hujan turun hampir sepanjang tahun dan dalam kondisi dengan curah hujan yang dapat mencapai 4600 mm pada tahun 2022, persoalan lingkungan seringkali berkaitan dengan aliran air. (12/05/2026).

Hujan yang mengalir dari area terbuka berpotensi membawa partikel tanah menuju badan air di sekitarnya, jika tidak dikelola dengan baik. Apalagi, area operasional perusahaan berbatasan langsung dengan wilayah perairan, yang menjadi tempat hidup berbagai biota laut serta menjadi sumber mata pencaharian nelayan lokal.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di kawasan operasional Harita Nickel di Pulau Obi, sedikitnya 52 kolam penampung sedimen dibangun untuk menahan aliran air sebelum dialirkan kembali ke lingkungan. Salah satu yang terbesar adalah kolam Tuguraci 2 dengan luas sekitar 43 hektar dan kapasitas mencapai 924.000 meter kubik.

Tim Observasi Perkumpulan Telapak menelusuri area pengendalian limpasan di kawasan tambang tersebut. Dari atas area kolam Tuguraci 2, aliran air berwarna kecokelatan terlihat perlahan memasuki area penampungan sebelum melalui proses pengolahan lebih lanjut.

Tim observasi juga melihat sedimen yang mengendap di dasar kolam dikeruk secara berkala untuk dimanfaatkan kembali dalam kegiatan reklamasi lahan bekas tambang.

“Kolam ini sangat efektif menangkap aliran air di area perusahaan,” ujar Dickson Aritonang dari Tim Observasi Perkumpulan Telapak.

Air limpasan dari kawasan tambang diolah melalui instalasi pengolahan air limbah menggunakan teknologi koagulan dan flokulan untuk mengurangi partikel tersuspensi sebelum dilepas ke lingkungan. Lumpur hasil pengolahan juga dimanfaatkan kembali sebagai media tanam untuk reklamasi.

Bagi sejumlah peneliti lingkungan, tata kelola air menjadi salah satu indikator penting dalam melihat bagaimana aktivitas pertambangan dijalankan di wilayah tropis dengan bentang alam sensitif seperti Obi.

Dalam kerangka planetary boundaries yang diperkenalkan ilmuwan sistem bumi Will Steffen dan tim Stockholm Resilience Centre, kualitas air dan stabilitas ekosistem perairan menjadi bagian penting dari upaya menjaga aktivitas manusia tetap berada dalam batas aman lingkungan.

Dickson menilai area sekitar kolam sedimentasi masih dapat diperkuat melalui pendekatan vegetatif. Menurutnya, penanaman pohon berakar kuat di sekitar kolam penting untuk membantu memperkuat struktur tanah sekaligus berfungsi sebagai filter alami.

Selain membangun kolam sedimentasi, pengelola kawasan juga menerapkan zona penyangga di sekitar badan air dan teknologi aerasi untuk menjaga kadar oksigen dan sirkulasi air. Pendekatan berbasis vegetasi dan sistem alami seperti ini semakin banyak digunakan dalam praktik pengelolaan lingkungan modern sebagai bagian dari nature-based solutions.

Peneliti Institut Teknologi Bandung, Sonny Abfertiawan, mengatakan pengelolaan lingkungan di wilayah tropis basah membutuhkan pendekatan yang terus menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan.

“Harita Nickel adalah salah satu perusahaan yang telah menerapkan prinsip good mining practice dengan serius, meski penerapan di lapangan akan selalu menghadapi tantangan karena kondisi alam yang dinamis,” ujarnya.

Menurut Sonny, Pulau Obi memiliki sumber air bernilai seperti Sungai Akelamo dan Danau Karo yang perlu dijaga kualitasnya karena memiliki potensi pemanfaatan luas bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

Namun, ia mengingatkan bahwa tingginya intensitas hujan dan perubahan kondisi cuaca membuat sistem pengendalian limpasan perlu dirancang secara adaptif dan tangguh agar tetap memenuhi baku mutu, termasuk saat cuaca ekstrem.

Di wilayah tropis seperti Pulau Obi, pengendalian limpasan pada akhirnya menjadi proses yang terus berkembang mengikuti dinamika alam. Di tengah perubahan cuaca dan bentang pesisir yang sensitif, kemampuan sistem untuk terus beradaptasi menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas lingkungan di sekitar kawasan tambang.* (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel waidobanusantaraori.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pelantikan Pengurus DPP SWI Dirangkaikan Dengan Kegiatan Green Impact 2026
Direktur PDAM Halsel, Tunggakan Pembayaran Rekening Air Sebesar 6,6 Miliar Mempersulit Opersional 
GMKI Cabang Bacan Titip Harapan bagi Muhlis Usman, Dorong Kepemimpinan Kolaboratif di GP Ansor Halsel
GMKI Cabang Bacan Titip Harapan bagi Muhlis Usman, Dorong Kepemimpinan Kolaboratif di GP Ansor Halsel
Tanggap Cuaca, Memitigasi Iklim di Bumi Saruma kabupaten Halsel,
Orang Tua Korban Pembubuhan Zulfikar, Harapan Terakhir Kami Hanyalah Berimbang Kehilangan Nyawa Pada Putusan Pengadilan
Rapat Panitia SWI GI 2026, Mantapkan Persiapan Kegiatan Prtengahan Bulan Juli Mendatang
Pemuda dan Masyarakat Desa Silang Gelar Bakti Sosial, Wujudkan Kepedulian terhadap Lingkungan
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 20 Juli 2026 - 08:24 WIT

Pelantikan Pengurus DPP SWI Dirangkaikan Dengan Kegiatan Green Impact 2026

Jumat, 17 Juli 2026 - 13:30 WIT

Direktur PDAM Halsel, Tunggakan Pembayaran Rekening Air Sebesar 6,6 Miliar Mempersulit Opersional 

Jumat, 17 Juli 2026 - 05:02 WIT

GMKI Cabang Bacan Titip Harapan bagi Muhlis Usman, Dorong Kepemimpinan Kolaboratif di GP Ansor Halsel

Jumat, 17 Juli 2026 - 04:41 WIT

GMKI Cabang Bacan Titip Harapan bagi Muhlis Usman, Dorong Kepemimpinan Kolaboratif di GP Ansor Halsel

Rabu, 15 Juli 2026 - 00:35 WIT

Tanggap Cuaca, Memitigasi Iklim di Bumi Saruma kabupaten Halsel,

Berita Terbaru

Uncategorized

Tanggap Cuaca, Memitigasi Iklim di Bumi Saruma kabupaten Halsel,

Rabu, 15 Jul 2026 - 00:35 WIT