Dari Lahan ke Tanah Suci, Serta Cerita Warga Sologi Dibalik Pembangunan Bandara

- Penulis

Jumat, 24 April 2026 - 10:37 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

WaidobaNusantaraori.com | Halsel – Di Desa Soligi, Pulau Obi, harapan tentang masa depan itu kini diterjemahkan dalam satu bayangan sederhana, bandara yang lebih dekat, akses yang lebih mudah, dan peluang yang lebih terbuka.

Bagi Ade Ahmad (48 tahun), harapan itu dimulai dari keputusan melepas lahannya untuk proyek pembangunan bandara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Saya menjual lahan karena mendukung pembangunan bandara, yang kami harapkan bisa membuka peluang usaha,” ujarnya.

Hasil penjualan lahan Ade Ahmad dimanfaatkan untuk biaya haji, membangun rumah dan tabungan untuk anaknya.

Dari hasil penjualan lahannya, ia gunakan untuk membangun rumah, menyiapkan biaya ibadah haji, dan menabung untuk masa depan anak.

“Manfaatnya besar buat saya, Insya Allah saya berangkat haji tahun 2028, bagi Ade pembebasan lahan bukan sekadar transaksi, melainkan bagian dari ikhtiar memperbaiki kehidupan, Ia meyakini, kehadiran bandara akan membawa perubahan nyata bagi warga.

“Dengan adanya bandara, kehidupan masyarakat bisa lebih baik, nanti ke mana-mana jadi lebih dekat,” ujarnya sambil tersenyum.

Pandangan serupa disampaikan Siti Aminah (52 tahun), bahwa lahan yang dulu dikelola almarhum suaminya,  akhirnya dilepas untuk pembangunan bandara, meski sempat ragu, namun ia melihat keputusan itu sebagai bagian dari harapan bersama warga.

“Perusahaan datang menawarkan, tapi kalau kami tidak mau jual, tidak ada paksaan, jadi ini karena kesepakatan,” katanya.

Ia mengakui awalnya tidak ingin melepas kebun yang ditanami langsat, durian, dan cengkeh, namun rencana pembangunan bandara membuatnya mempertimbangkan manfaat jangka panjang, “Kami berharap desa bisa lebih maju dan masyarakat lebih sejahtera,” ujarnya.

Hasil penjualan lahan itu ia gunakan untuk membangun rumah dan membuka kios, bukan Ganti Rugi, tapi ganti untung.

Pengalaman warga Soligi itu memberi gambaran lain di tengah narasi yang kerap menyebut pembebasan lahan tidak transparan atau bahkan penyerobotan, bagi Ade dan Siti, keputusan menjual lahan lahir dari proses yang mereka pahami dan setujui.

Pengalaman serupa disampaikan warga Desa Kawasi, Nur Eneng Rahmat (33 tahun), yang beberapa kali melakukan pembebasan lahan, menyebut prosesnya berlangsung terbuka sejak awal.

“Sebelum pembebasan, tim perusahaan datang menjelaskan. Lahan diukur bersama pemilik yang berbatasan, lalu harga dinegosiasikan sampai sepakat,” ujarnya.

Dari hasil penjualan lahannya itu, ia mengembangkan usaha kos-kosan yang kini menjadi sumber penghasilan,“menurut saya ini bukan ganti rugi, tapi ganti untung,” katanya.

Sementara itu, Madina Jouronga (55 tahun) memanfaatkan hasil penjualan lahannya untuk membeli speedboat yang kini menjadi usaha utama keluarganya, “Saya jual karena mereka mau beli dan saya juga mau jual,” ujarnya.
Rangkaian pengalaman warga ini menunjukkan proses pembebasan lahan tidak berlangsung dalam satu arah, melainkan melalui interaksi dan kesepakatan antara kedua belah pihak.

Hal itu juga disampaikan pihak perusahaan, Land Data Management & Advocacy Manager Harita Nickel, Ary Pratama, menjelaskan setiap proses diawali dengan sosialisasi kepada pemilik lahan, dilanjutkan pengukuran bersama, serta pendataan aset sebelum penentuan nilai dilakukan.

“Seluruh tahapan dilakukan secara terbuka dan melibatkan pihak terkait, sehingga masyarakat memahami proses dan nilai yang disepakati,” ujarnya.

Menurut Ary, prinsip utama yang dijalankan adalah memastikan proses berlangsung adil dan dapat diterima kedua belah pihak, “kesepakatan menjadi dasar dalam setiap pembebasan lahan,” katanya.

Bagi warga Soligi dan Kawasi, pembebasan lahan pada akhirnya bukan sekadar perpindahan kepemilikan, Ia menjadi titik temu antara pilihan dan harapan, tentang bagaimana lahan yang dilepas hari ini membuka jalan bagi kehidupan yang lebih baik di masa depan.* (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel waidobanusantaraori.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Matangkan Persiapan Pelantikan IKB Makayoa 10 Kabupaten Kota, Husein Said Soan Ke Ketua IKB Makayoa Provinsi
Menerima Kunjungan KPU, Partai Gelora Menyamakan Pemahaman Aturan Dan Pedoman Teknis
Sultan Bacan Diusul jadi Ketua Dewan Pembina IKB-Makayoa Halmahera Selatan
Polres Halsel dan Polda Malut Diminta Melindungi dan Tidak Menutup Atifitas Tambang Rakyat
DMI Halsel Serukan Persatuan dan Tegaskan Dukungan Penuh Terhadap Program Pemerintah
IKB-Makayoa Halsel Silaturahmi ke Kodim 1509/Labuha, Perkuat Sinergi dan Bahas Ancaman Karhutla
Lambatnya Penetapan WPR di Halsel Oleh Pemerintah, Jadi Sorotan Berbagai Pihak
Dengan Misi Kemanusiaan, IKB Makayoa Halsel Hadir Bagi-Bagi Masker Dampak Karhutla
Berita ini 72 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:51 WIT

Matangkan Persiapan Pelantikan IKB Makayoa 10 Kabupaten Kota, Husein Said Soan Ke Ketua IKB Makayoa Provinsi

Selasa, 20 Oktober 2026 - 10:53 WIT

Menerima Kunjungan KPU, Partai Gelora Menyamakan Pemahaman Aturan Dan Pedoman Teknis

Senin, 19 Oktober 2026 - 12:34 WIT

Sultan Bacan Diusul jadi Ketua Dewan Pembina IKB-Makayoa Halmahera Selatan

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 05:02 WIT

Polres Halsel dan Polda Malut Diminta Melindungi dan Tidak Menutup Atifitas Tambang Rakyat

Jumat, 16 Oktober 2026 - 00:48 WIT

DMI Halsel Serukan Persatuan dan Tegaskan Dukungan Penuh Terhadap Program Pemerintah

Berita Terbaru